Ads

Sejarah Situ Patengan Ciwidey "Pateang-teang"

Daftar Isi [Tampil]




Beredarnya cerita Asal muasal patengan dari mulut kemulut ahirnya membawa kesimpulan bahwa patengan berasal dari kata PATEANGAN TEANGAN yang berarti Saling mencari. Alkisah pada jaman kerajaan siliwangi Putra Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Kian santang pernah menjalin cinta dengan seorang gadis dusun yang sangat cantik jelita bernama DEWI RENGGANIS. Dewi rengganis sendiri adalah keturunan dari putri dari buah hasil alam yang dibesarkan oleh Keagungan sang pencipta, ketika cinta mereka sedang begitu Memuncak keluarlah perintah dari sang prabu siliwangi bahwa sang prabu harus pergi kemedan perang. Sedihlah hati sang putri, kekasih yang dicinta akan meninggalkan dirinya untuk pergi membela martabat kerajaanya yang sedang mengalami serbuan dari kerajaan Sumedang Larang yang dipimpin langsung oleh rajanya yaitu Kidang Pananjung.




ilustrasi

ilustrasi
 Perpisahan memang menyakitkan namuun sang prabu sebelum berangkat menitipkan sang putri kepada kedua sahabatnya yaitu Senopati LAYUNG yang saat ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai si layung ikan yang besar bila berada dalam air dan berwujud Mencek( RUSA) bila ada di darat dan Senopati AGOR yang Berwujud anjing yang saat ini diyakini pula hewan tersebut berkepala manusia dan tubuh seperti anjing, biasa dipanggil AUL. Hari berganti hari Minggu Bulan dan Tahun telah berganti, penantian dewi rengganis tak kunjung tiba hingga ahirnya pada suatu hari dewi rengganis mendapat wangsit bahwa dirinya harus menyepi disebuah Situ agar dapat bisa bertemu dengan kekasihnya, yaitu disebuah batu yang saat ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan Batu Cinta.





 Sampai akhirnya alkisah Prabu kian santang kembali mencari dewi rengganis setelah pulang dari medan perang namun karma lamanya pencarian (saling teangan ) tersebut menjadi sebuah nama dari pada keberadaan situ tersebut yaitu situ patengan. Pucuk di cinta ulampun tiba akhirnya mereka bertemu di batu cinta dan memadu kasih di pulau asmara (SASAKA), rasa gembira sang dewi dicurahkan melalui tangisan yang akhirnya menjadi sebuah sungai rengganis aliran air yang masuk memenuhi situ, itulah sungai yang diyakini masyarakat setempat jelmaan aliran air mata dewi rengganis.dan SASAKA yang saat ini dikenal pulau asmara masih banyak menyimpan misteri yang tak terpecahkan mengingat didalam pulau tersebut bila Kawenehan suka terlihat sebuah bangunan mirip mesjid dan sampai saat ini suka dijadikan wisata jarah bagi orang yang meyakininya.



Post a Comment

0 Comments